Senin, 06 Desember 2010

KEMUNDURAN ISLAM DI ASIA TENGGARA

BAB I
PENDAHULUAN
Menatap dunia masa kini tentunya tidak sama halnya dengan menatap dunia masa lalu. Hal ini sangat berkaitan dengan cara pandang para pelaku sejarah (masyarakat) yang hidup pada zamannya. Sebab cara pandang ini berdasar pada standar kemajuan yang seolah-olah telah menjadi nota kesepahaman dan kesepakatan masyarakat dalam menatap kehidupan di zamannya. Terlebih lagi ketika ada diskursus mengenai kebudayaan. Tentunya standar kemajuan tersebut akan melahirkan suatu indicator-indikator sebagai tolak ukur terhadap gejala-gejala perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Sehingga penilaian maju mundurnya suatu kebudayaan masyarakat tertentu bisa dilakukan ketika indikasi perubahan sosial mulai bermunculan. Pendek kata, yang menyebabkan munculnya perbedaan cara pandang masyarakat terhadap dunianya adalah bahwa standarisasi kemajuan mempunyai kelemahan terhadap batasan kronologis waktu. Tak pelak lagi, memang kehidupan kita terbatas oleh “ruang dan waktu”.
Subjektif merupakan klaim yang lebih banyak benarnya ditimpakan pada penilaian nonuniversal terhadap suatu kebudayaan masyarakat. Subjektivitas lebih dominan ketika sentiment-sentimen rasa (ras, suku, agama, keturunan, klaim geografis, kekuasaan, dll) mengarogansi cara pandang terhadap suatu kebudayaan masyarakat tertentu. Lebih parah lagi yang terjadi adalah penolakan fakta sejarah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kemandegan Intelektual
Dinamika pendidikan di masa-masa kejayaaan Islam adalah sektor yang paling diunggulkan. Barangkali hal ini berkaitan dengan semangat keilmuan dalam Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Keilmuan sebagai dasar pokok bangunan intelektual Islam. Keilmuan sebagai pembangun peradaban manusia. Keilmuan sebagai pengayaan intelektual guna melepaskan diri dari kemiskinan ilmu yang bisa berakibat pada kebodohan yang untuk selanjutnya sangat mungkin terjatuh dalam jurang kekafiran.
Sejak runtuhnya kekhalifahan Islam, secara global telah terjadi stagnasi pemikiran dalam umat Islam. Kemandegan pemikiran tersebut selain dipicu oleh hancurnya simbol tatanan kebudayaan di Bagdad, juga karena estafeta generasi perjuangan intelektual yang mengalami carut marut. Proses transfer nilai-nilai antar generasi yang kurang, baik nilai-nilai ruh pergerakan maupun nilai-nilai kultural yang membangun peradaban itu sendiri. Sehingga pada masa-masa selanjutnya terjadilah pergerakan-pergerakan tanpa ruh, gagap nilai, kebimbangan, pragmatisme yang mejadikan pergerakan itu sendiri berjalan tanpa visi dan misi mulia yang cukup jelas. Ritual-ritual kehidupan umat Islam yang berjalan tanpa nilai-nilai yang berakibat pada kelahiran dogma-dogma ritual dalam kebudayaan Islam. Hingga saat ini dogma-dogma ritual tersebut masih bisa kita rasakan dan banyak kita temukan dalam masyarakat kita. Terutama dalam masyarakat tradisional yang dalam sejarah penerimaan ajaran Islamnya masih bersifat kultural pragmatis. Hal inilah yang terkadang melenyapkan semangat pemahaman akan suatu nilai pencapaian hikmah terhadap hakikat, akan tetapi cukup hanya sebagai kesibukan sehari-hari yang dibubuhi berbagai kepentingan sebagai syarat mutlak bahwa ibadah butuh niatan.
Semuanya yang dipaparkan di atas merupakan ”pilihan sadar” umat Islam pada waktu itu, namun yang kali sering terjadi adalah keterpurukan umat yang sedang berjalan di bawah sadar umat Islam. Konsekuensinya, sebagai akibat dari stagnasi inteletual, keterpurukan tersebut akan selalu menghinggap pada diri umat Islam dalam jangka waktu yang sangat lama. Adapun penyebab stagnasi intelektual sebagai salah satu faktor kemunduran dunia Islam adalah sebagai berikut :
1. Euforia kejayaan umat Islam masa lampau.
2. Paradigma kemapanan yang menjamur dalam setiap lini kehidupan umat Islam.
3. Penyesatan umat yang banyak terjadi sebagai pemenuhan kebutuhan politis para penguasanya.
4. adanya perubahan sistem pemerintahan Islam, yaitu dari system kekhalifahan menjadi sistem kerajaan.
5. Adanya pertentangan golongan Syiah dengan Suni, aliran Muktazilah dengan aliran Asy’ariah, kaum sufi dengan kaum syariah.
6. Masuknya adat istiadat dan ajaran-ajaran bukian Islam ke dalam keyakinan Islam, sehingga memunculkan khufarat, bidah, dan takhayul.
7. Adanya keyakinan umat Islam bahwa pintu Ijtihad telah tertutup
8. Ritualitas kehidupan yang dilegalisasi oleh dogma-dogma keagamaan.
9. Pragmatisme sebagai akibat dari masyarakat pamrih.
10. Individualisme yang semakin berkembang.
11. Privatisasi pendidikan sebagai akibat dari kapitalisme global.
12. Sadar keumatan yang masih kurang.
13. Sadar teknologi sebagai sarana keilmuan masih kurang.
Barangkali beberapa hal yang disebutkan di atas perlu kita renungkan sebagai muhasabah keumatan. Yah, itulah komitmen kita sebagai pribadi-pribadi muslim yang tangguh.
B. Keberagaman
Merupakan suatu anugerah Allah SWT terhadap apa-apa yang ada di langit dan bumi ini. Barangkali sudah merupakan sunatullah ketika keberagaman ini menjadi variabel-variabel pengkayaan kehidupan umat manusia. Dalam hukum alam, variabel-variabel tersebut saling berkaitan antara satu sama lain sebagai suatu ekosistem kehidupan. Dengan demikian, terciptalah simbiosis-simbiosis yang cukup beragam berlandaskan pada perspektif kepentingan.
Dari analogi di atas, perspektif mana yang akan kita pakai sebagai cara pandang terhadap keberagaman sesuatu. Kesepakatan perspektif menjadi sangat penting karena cara pandang terhadap suatu keberagaman berimplikasi pada cara pengambilan suatu sikap yang akan dilakukan terhadap keberagaman tersebut. Nah, perangkat seperti inilah yang akan digunakan oleh penulis sebagai alat pengkajian tentang kemunduran dunia Islam sebagai akibat dari adanya keberagaman.
Suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat. Hal tersebut membuktikan bahwa di masa Rasulullah SAW keberagaman umat sudah bukan hal baru lagi. Entah itu beragam dalam hal bangunan identitas suatu individu maupun masyarakat hingga pada keberagaman pola pemikiran sekalipun. Artinya, tidak terlepas dari semangat perbedaan adalah rahmat, nabi sendiri menawarkan beberapa solusi mekanis seperti musyawarah mufakat, silaturahmi maupun forum-forum lainnya. Entah rahmat itu sendiri ditafsirkan sebagai instrument pengkayaan intelektual yang pada nantinya akan menjadi komponen-komponen pembangun peradaban umat Islam.
Awal kemunduran dunia Islam dimulai dari perpecahan yang terjadi di dalam tubuh umat Islam sendiri. Perpecahan ini sendiri muncul dari keberagaman umat yang tidak disikapi secara dewasa. Keberagaman umat itu sendiri terdiri dari beberapa hal, diantaranya adalah :
1. Keberagaman Garis Keturunan (Bani)
Keberagaman ini memunculkan sentimen-sentimen kelompok garis keturunan (bani). Sehingga masing-masing kelompok merasa bahwa kelompoknyalah yang paling unggul daripada kelompok-kelompok yang lain. Nilai-nilai negatif yang dimunculkan adalah menguatnya semangat Nepotis dalam berbagai aktifitas dunia Islam terhadap kelompoknya. Akhirnya terjadilah konflik-konflik antar kelompok dalam perebutan pengaruh kekuasaan. Paling parah adalah puncak konflik yang dimunculkan yaitu terjadinya perang saudara sebagai gerakan anarkis massal.
2. Keberagaman Tafsiran (interpretasi)
Awal dari munculnya keberagaman ini adalah hasil dari interpretasi-interpretasi yang berbeda terhadap pemahaman teks-teks Al Quran maupun Hadis. Begitu juga dengan riwayat atau sejarah perjalanan Rasulullah SAW. Dari pemahaman yang beranekaragam ini maka muncullah kelompok-kelompok yang membagi dirinya berdasarkan interpretasinya terhadap beberapa hal di atas.
Yang demikian itu untuk selanjutnya berpengaruh pada keragaman ritualitas, teknis cara beribadah dan beberapa prinsip-prinsip kehidupan lainnya. Karena sifatnya yang multiinterpretatif, maka keberagaman yang satu ini sering melahirkan keberagaman-keberagaman yang lain. Ironis memang, bahwa fenomena ini sering dijadikan instrument pemicu konflik intern beragama.
Keberagaman yang telah diuraikan di atas tidak lebih dari kondisi internal yang terjadi dalam tubuh umat Islam. Ketidaksiapan umat dan penyikapan yang tidak dewasa inilah yang pada nantinya akan memicu konflik-konflik yang tidak menguntungkan bagi Ukhuwah Islamiyah. Efek samping yang dihasilkan salah satunya ialah kondisi umat yang disibukkan untuk meladeni konflik-konflik tersebut. Akhirnya umat Islam hanya tersibukkan untuk melakukan manuver-manuver konflik yang makin melemahkan infrastruktur umat Islam itu sendiri. Padahal tuntutan zaman menuntut adanya perubahan pada suatu peradaban yang lebih maju .
Beberapa perubahan peradaban ke arah yang lebih maju membutuhkan perubahan paradigma. Terlebih paradigma yang dimaksud adalah suatu ideologi yang melandasi suatu perubahan tersebut. Sehingga muncullah keberagaman ideologi dengan berbagai tawaran perubahannya ke permukaan bumi ini. Bagaimana umat Islam menghadapi kondisi riil semacam ini? Ketika umat Islam disibukkan akan konflik internal yang hingga saat ini belum selesai.
Faktanya, konflik internal pada diri umat Islam ini terjadi cukup lama. Sehingga ketika dihadapkan pada realitas industri, mekanisme pasar, perbankan dan lain sebagainya sebagai jabang bayi kapitalisme global, apa tawaran Islam terhadap berbagai persoalan tersebut? Apakah selamanya kita akan menghujat sejarah?Ataukah bereuforia atas kejayaan masa lampau? Atau menolak hasil dari peradaban universal yang sudah di depan mata ini. Sahkah bila peradaban universal yang dimaksud adalah modernisasi dan westernisasi?
Bisa jadi uraian di atas merupakan dorongan langkah awal kita untuk melakukan perubahan-perubahan kultural demi tegaknya Ukhuwah Islamiyah.
C. Penjajahan Barat
Eropa mengahadapi tantangan yang sangat berat. Ternyata terdapat kekuatan-kekuatan perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Turki Usmani yang berpusat di Turki. Mereka melakukan penelitian tentang rahasia alam dengan menaklukan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya diliputi kegelapan. Setelah Christopher Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M), Vasco da Gama menemukan jalan ketimur melalui Tanjung Harapan (1498 M), keduanya jatuh ke tangan Eropa dan Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan karena tidak tergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam.
Kemajuan Barat melampaui Kelajuan Islam yang sejak lama mengalami kemunduran. Hal itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, penemuan mesin uap, teknologi perkapalan dan militer yang makin memantapkan mereka. Satu demi satu negeri Islam jatuh kedalam kekuasaan Eropa sebagai negeri jajahan, diantaranya India, Asia Tenggara, dan sebagian Timur Tengah.
Asia Tenggara merupakan wilayah Islam yang baru mulai berkembang dan merupakan daerah remaph-rempah terkenal pada masa itu, sehingga menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. dibandingkan Kerajaan Mugal, kerajaaqn-kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga dengan mudah dapat ditaklukan.
Kerajaan Islam Malaka ditaklukan Portugis pada tahun 1511 M. Sejak itu, peperangan-peperangan antara Portugis melawan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sering kali berkobar. Penjajahan terlama di Nusantara adalah di Timor Timur yang kini menjadi Negara merdeka yang terlepas dari NKRI.
Tahun 1521 M Spanyol berhasil menguasai Filipina, termasuk di dlamanya kerajaan-kerajaan Islam, diantaranya Kesultanan Mindanao, Kesultanan Buayan, dan Kesultanan Sulu. Pada abad ke-16 M Denmark dan Perancis gagal menjajah Asia Tenggara dan hanya datang untuk berdagang. Tahun 1595 M Belanda berhasil memonopoli perdagangan di Kepulauan Nusantara. Oelh karena itu terjadi beberapa peperanganbesar seperti Perang Aceh, Perang Paderi di Minangkabau, dan Perang Diponegoro di Jawa.
India ketika berada pada masa kemajuan pemerintahan kerajaan mughal adalah negeri yang kaya dengan hasil pertanian. hal itu mengundang eropa yang sedang mengalami kemajuan untuk berdagang kesana. Di awal abad ke-17 M inggris dan belanda mulai menginjakkan kaki di India. Pada tahun 1611 M inggris mendapat izin menanamkan modal, dan pada tahun 1617 M belanda mendapat izi yang sama.
Kongsi dagang inggris,Britis East India Compani {BEIC}mulai berusaha menguasai wilayah India bagian timur ketika ia merasa cukup kuat, pengusaha-pengusaha setempat mencoba mempertahankan kekuasaan, dan berperang melawan inggris tahun 1761 M namun, mereka tidak berhasil mengalahkan inggris.akibatnya,daerah-daerah oudh, Bengal,dan orissa jatuh ketangan inggris. Pada tahun 1803 M, delhi, ibu kota kerajaan mughal juga berada di bawah bayang-bayang kekuasaan inggris,karena bantuan yang di berikan inggris kepada raja ketika mengalahkan aliansi sikh-hindu yang berusaha menguasai kerajaan. Mulai saat itulah inggris leluasa mengembangkan sayap kekuasaannya di anak benua India dan sekitarnya. Pada tahun 1842 M keamiran meslim sind di India di kuasainya.
Tahun 1511 M, portugis menaklukan kerajaan islam malaka{15 M }yang merupakan kerajaan islam ke dua di asia tenggara setelah samudra pasai.sejak itu, peperangan antara portugis dengan kerajaan-kerajaan islam di indonesua, portugis menjajah paling lama di timor-timor.
Akhir abad 16 M, belanda, unggris, denmark, dan prancis datang ke asia tenggara.tahun 1595 M belanda datang dengan segera dapat memonopoli perdagangan di kepulauan nusantara. Kongsi dagang VOC juga memainkan peran politik. Peperangan yang terjadi karena hal tersebut antara lain:perang aceh, perang padri,perang di ponogoro






BAB III
PENUTUP
Adapun penyebab yang menyebabkan Islam mundur di Asia Tenggara adalah :
1. Kemandegan Itelektual diantaranya:
a. Euforia kejayaan umat Islam masa lampau.
b. Penyesatan umat yang banyak terjadi sebagai pemenuhan kebutuhan politis para penguasanya.
c. Aadanya perubahan sistem pemerintahan Islam, yaitu dari system kekhalifahan menjadi sistem kerajaan.
d. Sadar teknologi sebagai sarana keilmuan masih kurang.
2. Keberagaman
3. Penjajahan Barat






DAFTAR PUSTAKA

Yatim Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT.Grapindo persada.
Hourani, Albert. 2004. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim. Mizan.
Hitti, Philip K. Dunia Arab Sejarah Ringkas. Bandung: Sumur Bandung Terjemahan dari Usuludin Hutagalung dan O.D.P Sihombing;cetakan ketujuh
Huntington, Samuel P. 2000. Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. Qalam.
Mutholib, Abdul dkk. 1995. Sejarah Kebudayaan Islam I. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama
Syari’ati, Ali. Membangun Masa Depan Islam. Mizan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar